LOADING

Type to search

SHAKESPEARE IN LOVE: Cinta dan Kehidupan Seorang Aktor Bayaran

SHAKESPEARE IN LOVE: Cinta dan Kehidupan Seorang Aktor Bayaran

“Ada yang bilang, perempuan yang suka (menulis) puisi atau sedang membaca puisi, biasanya terlihat lebih cantik. Begitulah kira-kira menurut Sofyan R.H. Zaid, salah satu penyair generasi strukturalisme-baru Indonesia. Dan begitu jugalah apa yang dialami oleh Viola, tokoh utama–selain  tentunya Shakespeare–dalam film ini.”

Shakespeare In Love—adalah sebuah Film besutan sutradara asal Inggris John Madden (1949), film ini berhasil mendapatkan penghargaan Academy Award for Best Picture tahun 1998 yang diberikan oleh Academy of Motion Picture Art and Science (AMPAS), sebuah ajang penghargaan film paling terutama di Amerika Serikat. Bercerita tentang sebuah kisah percintaan yang melibatkan Viola de Lesseps (yang diperankan oleh Gyneth Paltrow) seorang putri kerajaan Inggris; Putri dari Ratu Elizabeth, dan seorang dramawan bernama William Shakespeare (yang diperankan oleh joseph fiennes).

Kisah Cinta ini bermula ketika Viola sering melihat drama-drama yang ditulis oleh Shakespeare di Istana yang banyak menceritakan kisah-kisah drama komedi, yang tak jarang di dalamnya diselingi dengan Soneta-Soneta. Semenjak itu, Viola sering menyalin dan membaca tulisan-tulisan Shakespeare di rumahnya.

“Apakah terang adalah terang? Jika Silvia tidak terlihat. Apakah kegembiraan adalah kegembiraan? Jika silvia tidak bersamaku. Kecuali aku berfikir dia ada di dekatku, dan memberikan bayangan kesempurnaan. Kecuali diriku dekat dengan Silvia saat malam hari. Tak ada musik yang terdengar saat malam, kecuali aku menatap Silvia di hari itu. tiada lagi hari bagiku untuk kupandangi.”

Dan ketika Viola di tanya oleh bibi pengasuhnya, apakah cinta itu seperti Valentine dan Silvia? Ia menjawab: Cinta tak seperti orang yang berada dalam sandiwara. Tapi cintalah yang mengalahkan kehidupan. Tak bisa dikendalikan atau dikuasai. Seperti kerisauan di dalam hati dan akhirnya tak ada yang bisa dilakukan. Datang dengan hancur, atau terpesona. Semua pria di istana itu adalah lelaki tanpa puisi. Dan jika mereka menatapku, meraka melihatku karena kekayaan ayahku. Dan aku akan memiliki puisi dalam kehidupanku dan petualangan.”

Ada yang bilang, perempuan yang suka (menulis) puisi atau sedang membaca puisi, biasanya terlihat lebih cantik. Begitulah kira-kira menurut Sofyan R.H. Zaid, salah satu penyair generasi strukturalisme-baru Indonesia. Dan begitu jugalah apa yang dialami oleh Viola, tokoh utama dalam film ini. Film ini mengambil plot sebagaimana cerita Romeo dan Julia—gubahan Shakespeare sendiri—yang mengikutsertakan salah satu adegan paling terkenalnya: “Balcony Scene”.

Shakespeare In Love adalah merupakan salah satu contoh Film yang menggabungkan antara kecerdasan seorang dramawan dan seorang Penulis. Model semacam ini belum pernah ada di Indonesia. Film ini, selain dalam ceritanya yang menceritakan tentang pergulatan 2 (dua) keluarga komunitas besar—Keluarga komunitas teater utara: Teater Curtain di bawah pimpinan Ricard burbage seorang aktor paling terkenal di Inggris pada masa itu, dan keluarga komunitas teater Rose di selatan, di bawah pimpinan Philipe Henslowe yang di sana juga tempat lahirnya penulis-penulis hebat seperti Marlowe dan Shakespeare sendiri—film ini juga diproduksi oleh komposisi seorang Penulis, dramawan dan sutradara sekaligus.

Shakespeare In Love ditulis oleh Marc Norman (1941) seorang penulis asal LA dan juga bersama Tom Stoppard (1937) seorang dramawan kelahiran Zlin, Chekoslavia. Dipandang dari sudut dunia perteateran, Shakespeare In Love merupakan film yang begitu detail dalam memperhatikan setting: pencahayaan, walldrop, dan pilihan-pilihan angle kastilnya, terutama setting untuk model Globe theaternya yang ditampilkan dengan tidak kehilangan khas kemegahan abad 15nya.

Shakespeare sendiri, dalam film tersebut sering bertanya-tanya kepada Viola, siapakah dirimu hingga kau bersembunyi di kegelapan malam dan mendengarkan fikiranku? Dan Viola menjawab: “Kegelapan malam akan sembunyikan diriku dari penglihatan mereka. Tetapi cintaku padamu membuatku terlihat di depanmu. Tataplah mataku dengan lembut, tatapan marahmu lebih menakutkan ketimbang seribu pedang mereka.”


ny.ane el’poesya Penulis manuskrip puisi 50.000 Ma'(w)ar🍷–, #Kotakcinta, Burung Kafir, Sains Puisi, etc. Penulis Cerpen “Matahari [ES 158]–”

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *