LOADING

Type to search

PUISI SEBAGAI EKSPERIMEN (II); DARI CHAIRIL, SUTARDJI, AFRIZAL HINGGA SAUT SITUMORANG

PUISI SEBAGAI EKSPERIMEN (II); DARI CHAIRIL, SUTARDJI, AFRIZAL HINGGA SAUT SITUMORANG

Sejak penelitian yang dilakukan oleh Boen S. Oemardjati dalam disesrtasinya mengenai Chairil Anwar (Chairil Anwar: The Poet and His Language, 1972), seperti misalnya dalam mula-mula gambaran pembahasan soal cara Chairil menggunakan pungtuasi dan pengkapitalan huruf di awal baris, kita semakin yakin bahwa kedudukan perpuisian dalam sejarah perpuisian modern Indonesia, adalah berawal dari sebuah praktik eksperimen terhadap bahasa; sesuatu yang bahkan hingga taraf morfologi–mikro–teks begitu sangat diberikan perhatian untuk kemudian memiliki pengaruh pada hasil pemaknaan yang ditujunya.

Praktik eksperimen ini (di sebelah “kiri”) dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri ketika ia berusaha memanfaatkan kekuatan unsur fonemikal melalui kredo (kembali kepada) mantranya–untuk menyambut “seekor kucing”, dengan konsekuensi ia bermain-main (selain “nanti” pada tipografi ketika diwujudkan dalam teks tertulis untuk mencapai pembaca dan penglihatnya) dalam deklamasi untuk menggapai efek yang diumpan-balikkan audi(pendengar)ensnya; satu jalan kembali kepada poetica oral, meski pada akhirnya yang bersangkutan di penghujung kepenyairannya justru berbalik menampik kredonya sendiri seraya kembali pada watak perpuisian yang konvensional sebagimana umumnya dikembangkan oleh banyak kalangan.

Dalam perjalanan selanjutnya, di era di mana perangkat Cultural Studies begitu berkembang, dari jalur ini melahirkan Afrizal Malna sebagai seorang yang mula-mula masih begitu terpengaruh oleh Sutardji hingga selanjutnya menemukan mode eksperimennya melalui pergulatan tubuh kepenyairannya sebagai penyair yang menjadikan (juga) tubuhnya sebagai media pengalaman; atau mungkin lebih tepatnya penyair yang mengidapkan dirinya–yang sibuk dalam roda gigi kota–pada “histeria kata”, pada histeria dokumen, yang mana mode itu dimulai dari melepaskan kumpulan kata dari sintaksnya (ex. sajak Daftar Indeks, Jembatan Rempah-rempah, Teknik Menghibur Penonton, dst.), hingga (ketika penulis perhatikan) “muncul”nya sebuah kredo di “ujung” karir kepenyairannya, yang tengah secara tegas menempatkan kata-kata dan benda-benda (yang sudah saling dipisahkan sebagai masing-masing benda) di luar (atau bahkan mungkin sebaliknya? kembalinya) “sebuah sintaks” (sebagai juga benda–dengan wujud kepala yang diletakkan), bersamaan dengan kata-kata yang merepresentasikannya di muka-latar sebuah papan tulis putih:  Afrizal Malna, Akun Youtube, Esai tentang Puisi Afrizal Malna, 2016.

Kita tahu, hasil dari apa yang …


Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *