LOADING

Type to search

Perempuan, Ambiguitas, Cinta, Ketidakmengertian dan Puisi, dalam Film “ADA APA DENGAN CINTA?”

Perempuan, Ambiguitas, Cinta, Ketidakmengertian dan Puisi, dalam Film “ADA APA DENGAN CINTA?”

Oleh: Shiny.ane el’poesya

Kepergian, adalah sesuatu yang menakutkan bagi orang yang sedang jatuh cinta. Terlebih kepergian tersebut hadir justru ketika cinta mulai tumbuh setelah ego, setelah benci, setelah bisu.

Tapi tak jarang, hal tersebut terjadi bukan sebenarnya karena ego yang benar–maksudnya benar-benar datang dari sebuah ke-egoan, bukan juga datang dari kebencian yang benar–maksudnya datang setelah perasaan benci yang benar-benar datang dari hal-hal yang saling merugikan, dan sesuatu yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan, tapi mungkin hanya dari sesuatu yang menyebalkan: ketidakmengertian.

“Ada Apa Dengan Cinta?”–merupakan satu film yang pernah dirilis oleh Rudi Sudjarwo tahun 2002. Film yang tidak hanya mampu mengangkat-ke-tengah kehidupan seorang remaja-remuji yang seringkali dipandang sebelah mata sebab kegemarannya dalam dunia tulis menulis, tapi juga sekaligus di dalamnya menganggkat problem mendasar dari perasaan yang paling manusiawi tersebut: sekali lagi, ketidakmengertian.

Hal tersebut misalnya jelas terpancar dalam judul film yang dimaksud, yang seolah semenjak awal ingin memproblematikkan perihal perasaan yang seringkali dianggap picisan, remeh, sepele, dan main-main oleh hampir banyak orang di sekitar kita. “Ada Apa Dengan Cinta?” sebuah kalimat tanya yang mengajukan sekaligus juga menggugat kepercayaan sementara kita tentang cinta, yang tidak jarang oleh orang banyak—mungkin hingga sampai saat ini, masih dianggap sebagai sesuatu yang hanya cukup akrab dirasakan, tetapi seolah-olah tanpa masalah sama sekali, sehingga dianggap tidak layak untuk direnungkan. Tetapi Rangga, dalam film tersebut terus saja mempertanyakannya.

Cinta adalah sesuatu yang turun bersamaan dengan turunnya karya dari surgawi. Tetapi, nampaknya, menurut Soe Hook Gie, seorang yang merupakan idealtype dari sosok Rangga dalam film AADC, pernah menulis sebuah puisi dalam catatan hariannya, yang mengatakan bahwa sesuatu yang indah-indah, seperti surga, hanya ada di langit, dan semua yang turun ke bumi, apapun, semuanya akan tetap palsu. Begitulah kira-kira premis yang coba diangkat dalam film tersebut.

Cerita dalam film tersebut berkembang dari sebuah puisi, kemudian bergerak menuju seorang perempuan; dimulai dari sebuah teks yang penuh dengan ambiguitas, kepada sebuah karya nyata yang tidak lebih sederhana dari sekedar sebuah teks. Tapi pula diakhiri oleh sebuah Puisi.

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dalam setiap dialog yang muncul dari tangan seorang Adam, bahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut mengalir semakin deras kepada Cinta sepanjang cerita.

Misalnya sebuah dialog panjang yang terjadi dalam adegan di depan toko buku Kwitang Pak Limbong:

Cinta    : Ya ampun.

Rangga    : Kenapa Ta?

Cinta    : Aduh, gue lupa janji sama anak-anak nonton konsernya Pas hari ini.

Rangga    : Nggak ada kamu, Pas tetep manggung kan?

Cinta    : Jangan gitu dong, tapi aku kan sudah janji ama temen-temen sejak kapan tau.

Rangga    : (1) Kamu ini pingin nonton, karena kamu pingin nonton apa nggak enak sama temen-temen kamu?

Cinta    : Ya, dua-duanya. Saya pulang duluan aja ya?

Rangga    : Kayak nggak punya pendirian aja.

Cinta    : Ha, apa kamu bilang?

Rangga    : Iya, nonton harus sama-sama, pulang sekolah sama-sama, Berangkat juga sama-sama. Apa namanya kalo bukan mengorbankan kepentingan pribadi kepentingan yang kurang prinsipil?

Cinta    : Rangga, ini sangat prinsipil!

Rangga    : Oh ya?

Cinta    : Heh, apa juga gue ngomong sama loe.  Elo punya temen aja nggak.

Rangga    : Paling tidak, saya tidak bergantung sama siapa-siapa. Ya udah deh, mendingan kamu susul teman-teman kamu. Bisa pulang sendiri?

Cinta    : Apa tu maksudnya?

Rangga    : Ya, perempuan kayak kamu gak pantes aja jalan di tempat kayak gini sendirian.

Cinta    : Perempuan kayak gue? Perempuan kayak gimana tu maksud loe? Rugi gue buang-buang waktu sama loe.

Begitu juga sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali diajukan oleh Cinta mengenai sosok Rangga, seperti misalnya keheranan yang muncul dalam benak Cinta yang ia ungkapkan kepada teman-temannya di ruang editing madding ketika membicarakan pemenang lomba puisi tahunan yang ternyata dimenangkan oleh Rangga.

Maura  : Cie, kayaknya dalam banget menghayati puisi sebagai pemenang.

Cinta     : Eh.

Alya       : Emang puisinya bagus banget ya Ta?

Cinta     : Mmm, bagus-bagus. Ya, asal nggak plagiat aja.

Milly      : Emang plagiat apaan sih ta?

Maura  : Milly, please dong. Plagiat itu, nyontek punya orang.

Milly      : Mereka nyontek punya orang dong Ta?

Cinta     : Nggak, nggak, kalo Milly. Gue bilang kalo. Tapi, gue rada tersinggung ama ini orang ni. Masalahnya kalau dia bisa nulis dari dulu, kenapa nggak pernah ngasih tulisan ke mading kita? Berarti dia kan nggak nganggap mading kita eksis.

Maura  : Iya, ya.

Karmen : Trus, rencanan elo apaan Ta? Kalau anaknya belagu, sini deh gue yang ngadepin.

Cinta    : Gini-gini deh, pokoknya yang paling penting kita harus cepet- cepet ketemu dia. Trus, kita wawancarai dia.

Memang, puisi selalu menghadirkan sebuah pertanyaan, dan usaha untuk menjawab yang coba disampaikan di atasanya, selalu saja menyisakan sebuah tanda tanya, selalu menyisakan ruang bagi sebuah tafsir yang lain.  Bahkan, tak jarang, ketika kita menghadapi puisi, menghadapi kenyataan puitik yang telah begitu jelas, justru kita akan bertanya-tanya tentang kejelasan tersebut. Mengapa puisi? kalau ternyata itu semua sudah jelas? Bukankah, jika semuanya sudah jelas, dan terang, maka mukjizat tidak ada lagi? Artinya puisi tidak sama sekali pernah hadir, dan di antara kita semua tidak pernah ada sosok yang misterius itu: Cinta (?)

Seperti bisa kita lihat, dengan gaya “penuturan” kisah yang problematik, baik Cinta maupun Rangga, mereka “bertemu” justru bukan sebab sesuatu yang sifatnya biasa-biasa, bukan sesuatu yang akrab, bukan dari sesuatu yang sama-sama mereka kenal dan temui dalam rutinitas sehari-hari. Tetapi dari sebuah “keasingan” terhadap tanda, dari sebuah “kebingungan,” dari sebuah “pertanyaan demi pertanyaan,” dan bahkan perasaan yang aneh itulah yang seolah-olah membuat mereka terus terdorong untuk saling terkoneksi satu sama lain.

Sudah barang tentu, jika wajar film ini memiliki ending yang lirih. Dengan menampilkan adegan kepergian Rangga dari Cinta, yang lagi-lagi penuh dengan ambiguitas. Hal tersebut kita bisa baca dari puisi di bawah ini,

Perempuan datang atas nama cinta
Ibu pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa denganya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku
Karena aku ingin kamu, itu saja.

Dalam puisi tersebut, 2 kali kalimat pertanyaan diulang di akhir-akhir premis yang dibangun dalam setiap bait. Atau bahkan dari adegan yang ditimbulkan dari pembacaan atas puisi tersebut, dimana ketika Cinta selesai membaca selesai puisi di atas pada larik “tapi pasti aku akan kembali, dalam satu purnama,” sosok Cinta digambarkan begitu bahagia seperti seorang yang mendengar kabar baik, bahwa kekasihnya hanya akan pergi dalam waktu “satu bulan purnama,” tetapi apa faktanya? konon ternyata Rangga baru kembali menemui cinta setelah 12 tahun lamanya. Apakah ada yang salah?

Ternyata tidak. dan jika kita membaca kembali penggalan puisi di atas, ternyata kita hanya akan menemukan ketidaktuntasan dalam “membaca” yang dilakukan oleh Cinta. apa yang dibaca oleh Cinta sebagai “Satu Purnama” adalah sama dengan kata “Satu Bulan” saja, sebagaimana proses terjadinya fenomena bulan purnama yang terjadi satu bulan sekali. Padahal, kalau kita perhatikan kembali, penggalan puisi tersebut bisa bermaksud “Satu,” sebagai “Suatu Bulan Purnama,” In The moon full light: pada satu malam ketika terjadinya bulan purnama,” yang entah itu kapan.

Tapi sekali lagi, apakah itu berarti apa yang dilakukan Cinta, ketika membaca sebuah puisi, dan berusaha coba memahaminya, adalah sesuatu yang salah? Tidak juga, sebab pembacaan selalu “tidak bersih” dari sebuah kondisi, sebuah harapan, dan sebuah keinginan terhadap sebuah makna. Dan inilah yang sedang dialami oleh Cinta, sebuah harapan, yang bercampur dengan emosi, agar semua bisa segera kembali dan berulang seperti adanya. …

“Ada Apa Dengan Cinta?”—sebuah film yang patut kita hargai, karena paling tidak melalui Film tersebut, dunia kesusastraan, dunia puisi yang pada awalnya adalah merupakan sebuah produk kebudayaan yang tak jarang mewakili pergulatan kalangan elit intelektual, dan cerminan dari sebuah masyarakat tinggi, mampu diperkenalkan kembali dengan gayanya yang popular dan segar. Atau—

Jika pada dasarnya, puisi adalah sesuatu yang “berat,” sesuatu yang “mewah,” sebab tidak semua orang bisa mengaksesnya secara “sembarangan,” tapi sebenarnya ia popular, karena puisi bicara sesuatu yang sama sekali tidak pernah bisa tidak diterima oleh manusia manapun di seluruh jagat raya ini, sesederhana apapun, status sosialnya, pendidikannya, isi fikirannya.

Dan seperti halnya cinta, puisi hanya perlu satu, keterbukaan, keihklasan, penyerahan secara utuh, bukan hanya sekedar tubuh, tetapi jiwa seseorang, terhadap orang yang telah dipilihnya. sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli oleh apapun dari seorang manusia, bahkan oleh Tuhan, yang ia tidak bisa juga merampasnya: kebebasan, atau kehendak jiwa, kehendak cinta yang ada pada diri seseorang. Kecuali dengan adanya penyerahan dan keihlasan tersebut.

Saat ini, apakah setelah Cinta, setelah banyak sekali perempuan-perempuan mulai menulis puisi, cinta dan puisi semakin bisa dimengerti? Atau justru malah sebaliknya, puisi dibalas dengan puisi, kebisuan dibalas dengan kebisuan, ambiguitas dibalas dengan ambiguitas, dan ke”tidakmengertian,” dijawab dengan ke”tidakmengertian” lainnya.

Atau, selama ini sudut pandang kita yang memang terlalu naif terhadap cinta, terhadap puisi. Sehingga kita tidak pernah mau mengakui kalau memang sebenarnya, pada dasarnya setiap manusia begitu mencintai Puisi, mencintai kepergian, lebih mencintai luka ketimbang cinta. Dan oleh karenanya jika kepergian adalah satu hal yang menakutkan, maka jatuh cinta dan puisi sebenarnya lebih dari itu. Sebab ketika jatuh cinta dan memilih puisi, banyak hal yang akan membuat kita lebih takut; Takut jika kita berada dalam kesendirian yang berlarut-larut.

Yah begitulah Cinta, kemudian nasib sebuah “puisi!” sebab puisi, sebagaimana nasib, ia hakikatnya adalah kesepiannya masing-masing! Dan pada akhirnya kitapun akan kembali berkali-kali saling bertanya-tanya tanpa pernah sebenarnya mengharapkan jawabannya: Ada apa, dengan cinta?


Shiny.ane el’poesya Penulis manuskrip puisi 50.000 Ma'(w)ar🍷–, #Kotakcinta, Burung Kafir, Sains Puisi, etc. Penulis Cerpen “Matahari [ES 158]–”

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *