LOADING

Type to search

CALLIGRAM, KALIGRAFI, PUISI KONKRIT INDONESIA [?]

CALLIGRAM, KALIGRAFI, PUISI KONKRIT INDONESIA [?]

1. Art is universal; 2. A work of art must be entirely conceived an shaped by the mind before its execution. It shall not receive anything of nature ‘s or sensuality’s or sentimentality’s formal data. We want to exclude lyricism, drama, symbolism, and so on; 3. …”  (1930)[2]

Ungkapan di atas adalah penggalan dari manifesto Seni Konkrit yang dideklarasikan oleh Theo Van Doesburg, untuk membedakan visi gerakan seninya dari gerakan seni abstrak yang berkembang di zamannya. Dalam manifesto tersebut diungkapkan bahwa kerja kesenian lebih dulu harus merupakan sebuah bentuk-dalam-fikiran seorang seniman sebelum ia diekspresikan dalam medium tertentu; Kata “konkrit” di sina digunakan sebagai pemberi sifat “khusus” sebagai lawan dari kata “abstract” yang pada saat itu memiliki konotasi negatif, sesuatu yang non-sense dsb., seolah digunakan untuk menunjukkan bahwa seni kontemporer yang saat itu tengah dikuasai oleh gerakan Dada, Surealis, dst., mesti memiliki wujud lainnya.[3]

Sebagai sebuah respon atas zamannya, manifesto ini dibuat oleh sekelompok seniman terutama mereka yang bergerak di bidang seni rupa. Bahkan, secara khusus diungkapkan, manifesto kesenian ini mengecualikan jenis seni seperti puisi, drama dan simbolism–yang mungkin memang bergerak di ranah non-rupa.

Namun pada tahun 1956 ketika kelompok penyair Noigandres Brazil mengadakan sebuah pertemuan sastra, kita mendapati Eugen Gomringer yang pada saat itu menjadi ketua grup tersebut, menyepakati pemberian label “poesia concreta/konkrete poesie” yangdilabelkan oleh Augusto de Campos semenjak setahun sebelumnya untuk menyebut jenis gerakan ini. Dari sanalah kemudian kata “Puisi Konkrit” kemudian menyebar ke seluruh dunia–meskipun sebenarnya, pada event pertemuan sastra Noigandres kedualah, pada tahun setelahnya, 1957, kata tersebut benar-benar menjadi tersebar luas dengan adanya polemik dalam surat kabar di Rio sepanjang satu bulan. Bahkan lebih jauh, pertemuan kedua ini mampu mendengungkan nama concrete art itu sendiri ke telinga publik yang lebih luas, ketika pada pertemuan kedua tersebut diadakan sebuah exhibisi yang menghadirkan para pelukis, pemahat, termasuk grup penyair yang menampilkan puisi-puisinya dalam bentuk poster secara bersamaan sehingga memberikan para pengunjung satu landscap mengenai “seni visual” dalam berbagai metode dan medium. Di antara artis itu adalah, Waldemar Cordeiro, Luiz Sac dsb.; exhibited their work together, ten artist from each camp.[4]

Kita pun melihat–sebagaimana pernah disinggung pada tulisan sebelumnya dalam “Aras Puisi Kontemporer Indonesia dan Kemungkinan Puisi Biner” (silah ketik judul tersebut di panel mesin pencari google), bahwa perkembangan Puisi Konkret kemudian sempat memberi pengaruh pada perpuisian Indonesia tahun 80-an. Orang seperti Hamid Jabbar, Jeihan pernah menulis puisi-puisi yang dipengaruhi oleh perkembangan puisi konkrit dan bahkan hingga mempengaruhi model wacana puisi dan kepenyairan SCB yang sebelumnya dikembangkan sebagai puisi “Mantra”.

***

Seiring makin tidak dapat dibendungnya lagi mode penulisan menggunakan media digital oleh generasi millenial Indonesia, kurang lebih dua bulan yang lalu penulis menemukan pada salah satu grup Facebook–Komunitas Puisi Indonesia (KOPI), satu jenis puisi konkrit yang coba digeluti oleh beberapa anggotanya: Ayub Kumalla dan Adie Alamsyah. Pada kesempatan itu, mereka menyebut puisi-puisi yang dibuatnya sebagai jenis puisi tipografi visual.

Dengan nada sedikit “sinis”–yang sebenarnya penulis hanya ingin coba “menguji” sejauh apa mereka benar dalam mendalami jenis puisi, penulis coba mempertanyakan 

(read more …)

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *