LOADING

Type to search

KAWE(RUH) PUISI

KAWE(RUH) PUISI

Setiap orang yang hendak menulis puisi, tentu ingin sekali puisi yang dibuatnya itu, memiliki ruh. Sebagaimana kehidupan kita sendiri ini, apa yang akan terjadi jika tidak adanya ruh dalam tubuh? Jawabannya kita sudah tahu semua: Mati. Dan mati berarti hanya terus membusuk dari hari ke hari, kecuali ada pertolongan dari mukjizat alam.

Lantas, bagaimana agar puisi yang kita buat, bisa memiliki ruh? Bagaimana agar puisi yang kita buat, bisa menjadi hidup? Bagaimana, agar puisi yang kita buat, bisa bicara? Kira-kira, kembali beberapa hari yang lalu, untuk kesekian kalinya, pertanyaan-pertanyaan demikian sampai ke telinga saya.

Pertanyaan-pertanyaan demikian sebenarnya, dan seharusnya, terlalu terburu-buru untuk diucapkan–jika itu diucapkan oleh penulis pemula, terlalu tinggi sebab untuk diwedarkan jawaban-jawabannya ia yang bertanya harus sudah siap mengerti akan hal-hal yang hendak dijelaskannya.

Sebagai contoh. Orang yang bertanya dengan pertanyaan demikian seharusnya sudah lebih dulu mengerti apa itu ruh–dalam puisi? Atau yang lebih mendasar, apa itu puisi sendiri? Sehingga ia dapat menentukan pengertian dan bagian-bagian apa saja yang ada dalam puisi, sebelum ia ingin masuk lebih jauh.

Soal lainnya adalah, apabila sebuah puisi yang di dalamnya diputuskan telah memiliki ruh, apakah secara umum para pembaca akan dapat melihat ruh dalam puisi tersebut? Jangan-jangan, bisa jadi, jawabannya adalah memang sebagaimana kewajarannya, bahwa tidak banyak dari pembaca mengenal soal ruh dalam puisi, dan bahkan dari sedikit yang mengetahuinya, pengetahuannya pun terkadang hanya sedikit-sedikit saja, hanya samar-samar saja, dan sisanya? Gaib.

Namun, sebab dulu kala pernah dipesankan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma dalam salah satu seratnya–Serat Gendhing, bahwa setiap seorang prajurit yang hendak berniat menjadi kesatria, kesatria atau bahkan raja sejati, ia haruslah menguasai ilmu sastra yang dalam, maka, sedikit akan diwedarkan di sini rahasia sastra yang dimaksud.

Pertama. Bahwa Puisi dan Sastra adalah dua hal yang berbeda. Singkatnya, puisi adalah sebuah aktivitas membuat sebuah karya ciptaan untuk tujuan tertentu–secara umum tujuan yang berhubungan dengan karya seni, sedangkan Sastra berarti sebuah tulisan yang berisi ajaran.

Kedua. Maka Puisi merupakan sebuah aktivitas yang sifatnya lebih luas mencakup berbagai hasil ciptaan, sedangkan Sastra berarti sebuah hasil (yang telah mewujud) dari sebuah aktivitas.

Tiga. Jiwa dari sastra yang memiliki ruh adalah sekumpulan makna; makna-makna yang bertebaran dari sumber mata air yang ada di tengah-tengahnya, yang disebut sebagai filsafat.

Empat. Dalam Puisi, filsafat itu bisa muncul sebagai hasil dari pergulatan batin seorang ‘pencipta.’

Lima. Hubungan antara sebuah karya Puisi, karya Sastra dengan ruh nya tidak seperti hubungan antara dua sisi mata uang yang jika kita balik dari satu sisinya maka kita akan menemukan sisi lainnya, atau seperti antara hubungan antara teras dan benda-benda yang berada di dalam ruang tamu sebuah rumah yang mana jika kita memasukinya maka kita akan mengetahui segala jenis perabotnya.

Enam. Bisa jadi segala jenis karya Puisi dan Sastra sejelek apapun wujudnya, sebenarnya ia memiliki ruh. Tetapi, banyak sekali pembuat karya Puisi dan karya Sastra sebab kebodohannya bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukan dan dibuatnya; sehingga yang ada hanyalah bercampurnya antara kebodohan demi kebodohan dan segala kegelapannya.

Tujuh. Ruh dan tenaga puisi adalah dua hal yang berbeda. Tenaga adalah bagian dari jiwa karya Puisi dan Sastra.

Delapan dan terakhir. Jujurlah pada pengetahuan akan diri sendiri. Belajarlah dengan baik, selagi jadi orang awam. Sebab mengetahui keawaman diri, adalah satu bentuk pengetahuan sejati akan diri tersendiri. Dan bisa jadi, dari pengetahuan keawaman diri tersebutlah, awal dari terangnya kegelapan.

02:30 am, 17 Maret 2019

**Haiku adalah salah satu contoh Puisi yang ruhnya terletak hanya sampai pada filsafatnya, bukan sampai pada wujudnya sebagai sebuah kumpulan teks.

Tags:
Next Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *